METODE PERBAIKAN BETON
METODE PERBAIKAN BETON
Dengan adanya kerusakan pada beton maka kita harus
melakukan perbaikan agar beton yang telah kita kerjakan dapat memuaskan,oleh
sebab itu untuk mendapatkan hasil perbaikan dan perkuatan yang tepat guna dan
mencapai sasaran yang telah ditetapkan, maka perlu dilakukan investigasi untuk
mendapatkan data-data kerusakan baik melalui pengamatan visual ataupun dengan
bantuan pengujian non-destructive maupun semi destructive dan mereview dokumen
dari struktur yang ada. Dari hasil investigasi tersebut, kemudian dilakukan
analisa dan evaluasi pada struktur tersebut untuk menetapkan apakah kerusakan
yang terjadi hanya perlu perbaikan atau perlu perkuatan atau dalam kondisi yang
terjelek struktur yang mengalami kerusakan harus dilakukan pembongkaran dan
dibangun struktur baru.Berikut adalah contoh untuk perbaikan beton yang
mengalami keretakan,spalling(terlepasnya bagian beton),dan juga metode
perkuatan beton
MEMPERBAIKI KERETAKAN
Keretakan dibedakan retak struktur
dan non-struktur. Retak struktur umumnya terjadi pada elemen struktur beton
bertulang, sedang retak non-struktur terjadi dinding bata atau dinding
non-beton lainnya. Untuk retak
non-struktur, dapat digunakan metode injeksi dengan material pasta semen yang
dicampur dengan expanding agent serta latex atau hanya melakukan sealing saja
dengan material polymer mortar atau polyurethane sealant. Sedang pada retak
struktur, digunakan metode injeksi dengan material epoxy yang mempunyai
viskositas yang rendah, sehingga dapat mengisi dan sekaligus melekatkan kembali
bagian beton yang terpisah. Proses
injeksi dapat dilakukan secara manual maupun dengan mesin yang bertekanan,
tergantung pada lebar dan dalamnya keretakan.
SPALLING
Metode perbaikan pada kerusakan spalling,
tergantung pada besar dan dalamnya spalling yang terjadi.
- Patching
Metode perbaikan ini adalah metode perbaikan manual, dengan melakukan penempelan mortar secara manual. Pada saat pelaksanaan yang harus diperhatikan adalah penekanan pada saat mortar ditempelkan; sehingga benar-benar didapatkan hasil yang padat.
Material yang digunakan harus memiliki sifat mudah dikerjakan, tidak susut dan tidak jatuh setelah terpasang (lihat maksimum ketebalan yang dapat dipasang tiap lapis), terutama untuk pekerjaan perbaikan overhead. Umumnya yang dipakai adalah monomer mortar, polymer mortar dan epoxy mortar.
- Grouting
Metode ini dapat dilakukan secara manual (gravitasi) atau menggunakan pompa.
Pada metode perbaikan ini yang perlu diperhatikan adalah bekisting yang terpasang harus benar-benar kedap, agar tidak ada kebocoran spesi yang mengakibatkan terjadinya keropos dan harus kuat agar mampu menahan tekanan dari bahan grouting.
Material yang digunakan harus memiliki sifat mengalir dan tidak susut. Umumnya digunakan bahan dasar semen atau epoxy.
- Shot-crete (Beton Tembak)
Metode shotcrete ada dua sistim yaitu dry-mix dan wet-mix.
Pada sistim dry-mix, campuran yang dimasukkan dalam mesin berupa campuran kering, dan akan tercampur dengan air di ujung selang. Sehingga mutu dari beton yang ditembakkan sangat tergantung pada keahlian tenaga yang memegang selang, yang mengatur jumlah air. Tapi sistim ini sangat mudah dalam perawatan mesin shotcretenya, karena tidak pernah terjadi ‘blocking’.
Pada sistim wet-mix, campuran yang dimasukkan dalam mesin berupa campuran basah, sehingga mutu beton yang ditembakkan lebih seragam. Tapi sistim ini memerlukan perawatan mesin yang tinggi, apalagi bila sampai terjadi ‘blocking’.
Pada metode shotcrete, umumnya digunakan additive untuk mempercepat pengeringan (accelerator), dengan tujuan mempercepat pengerasan dan mengurangi terjadinya banyaknya bahan yang terpantul dan jatuh (rebound).
- Grout Preplaced Aggregat (Beton Prepack)
Material grout yang umumnya digunakan adalah polymer grout, yang memiliki flow cukup tinggi dan tidak susut.

Komentar
Posting Komentar